AREA KUNCI AUDIT KINERJA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI (DJBC)

Jika dilihat dari struktur organisasinya yang kompleks maka dapat dikatakan bahwa Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Direktorat mengemban tugas yang cukup besar. Tugas DJBC yaitu sebagai fasilitator perdagangan (trade facilitator), pengawas (customs control), dan pengumpul penerimaan negara (revenue collecting). Secara garis besar, ketiga fungsi tersebut dapat dibagi ke dalam dua fungsi utama, yaitu fungsi pelayanan dan fungsi pengawasan. Sebagai salah satu pilar utama dalam Departemen Keuangan, DJBC memainkan peran yang penting dalam hal maksimalisasi penerimaan negara. Oleh karena itu, DJBC terus dituntut untuk melaksanakan kedua fungsinya sekaligus tanpa mengurangi dan mengorbanan fungsi satu dan fungsi lainnya.

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, DJBC dalam melaksanakan tuganya harus memenuhi tiga kriteria yaitu ekonomis, efektif, dan efisien. Oleh karena itu diperlukan adanya audit atas kinerja DJBC. Namun, melihat kompleksnya struktur organisasi, pembagian tugas, fungsi, dan wewenang, audit atas kinerja DJBC akan menjadi terlalu luas dan tidak menyentuh pokok permasalahan jika auditor tidak memfokuskan audit pada titik-titik yang bernilai tambah saja. Maka dari itu auditor perlu menentukan area kunci, yaitu bidang-bidang yang akan diperiksa sehingga  hasil audit nantinya akan menyentuh pokok permasalahan. Pemilihan area kunci yang tepat memungkinkan penggunaan sumber daya audit secara lebih efisien dan efektif karena dapat memfokuskan sumber daya pada area yang memiliki nilai tambah yang maksimum.

Pendekatan Penentuan area kunci dapat dilakukan berdasarkan selection factors, yakni  :

  1. Risk-based audit approach

Suatu pendekatan dengan menggunakan analisis risiko untuk menentukan area penting yang seharusnya menjadi fokus audit.  Dalam audit kinerja, risiko lebih ditekankan pada risiko yang ditanggung manajemen terkait dengan aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.  Sistem pengendalian internal yang lemah atas suatu program/kegiatan menunjukkan adanya risiko yang tinggi.

Beberapa hal yang dapat digunakan untuk menilai kemungkinan terjadinya risiko manajemen adalah  :

(a)  Pengeluaran signifikan di bawah atau di atas anggaran

(b)  Tidak tercapainya tujuan yang telah ditetapkan

(c)  Tingginya mutasi pegawai

(d)  Ekspansi program secara mendadak

(e)  Hubungan tanggung jawab yang tumpang tindih, dll.

2.  Signifikansi

Bergantung pada apakah suatu kegiatan dalam suatu area audit secara komparatif memiliki pengaruh yang besar terhadap kegiatan lainnya dalam objek audit secara keseluruhan.

3.  Dampak audit

Nilai tambah yang diharapkan dari audit tersebut yakni suatu perubahan dan perbaikan yang dapat meningkatkan 3E.

4.  Auditabilitas

Kemampuan audit untuk melaksanakan audit sesuai dengan standar profesi.

Dalam memutuskan hal tersbeut, auditor dapat mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

(a)  Sifat kegiatan yang tidak memungkinkan untuk diaudit,

(b)  Auditor tidak memiliki keahlian yang disyaratkan,

(c)  Area sedang dalam perubahan yang mendasar,

(d)  Kriteria yang sesuai tidak tersedia untuk menilai kinerja,

(e)  Lokasi pekerjaan lapangan tidak dapat dijangkau (bencana alam).

Contoh Kasus Identifikasi Area Kunci – Ditjen Bea Cukai

Identifikasi Area Kunci
Tujuan:
Menentukan Area Kunci
Langkah-langkah:
A.   Analisis untuk menentukan area audit potensial dengan menggunakan pendekatan faktor pemilihan pada beberapa tugas utama Ditjen Bea Cukai
  1. mengamankan kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan lalu lintas barang yang masuk atau keluar Daerah Pabean
  2. memungut Bea Masuk dan Cukai serta pungutan negara lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku
  3. mengawasi kegiatan ekspor dan impor, mengawasi peredaran minuman yang mengandung alkohol atau etil alkohol, dan peredaran rokok atau barang hasil pengolahan tembakau lainnya
  4. fasilitator perdagangan, yang berwenang melakukan penundaan atau bahkan pembebasan pajak dengan syarat-syarat tertentu.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan pemeringkatan atas area audit potensial adalah sebagai berikut:
  • Risiko manajemen, Suatu pendekatan dengan menggunakan analisis risiko untuk menentukan area penting yang seharusnya menjadi fokus audit.  Dalam audit kinerja, risiko lebih ditekankan pada risiko yang ditanggung manajemen terkait dengan aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas.
  • Signifikansi, berkaitan dengan dampak yang dihasilkan area tersebut terhadap objek audit secara keseluruhan
  • Dampak potensial dari audit kinerja, Nilai tambah yang diharapkan dari audit tersebut yakni suatu perubahan dan perbaikan yang dapat meningkatkan 3E
  • Auditabilitas, Kemampuan audit untuk melaksanakan audit sesuai dengan standar profesi.
Tim audit menggunakan matriks pembobotan untuk menyeleksi area audit potensial dengan skor sebagai berikut:
  • Tinggi    : skor 3
  • Sedang : skor 2
  • Rendah : skor 1
B.      Analisis untuk menentukan area kunci berdasarkan area dengan memerhatikan beberapa faktor berikut:
  1. Risiko manajemen, yaitu risiko manajemen atas tidak tercapainya 3E
  2. Signifikansi, menilai apakah suatu kegiatan dalam suatu area audit secara komparatif memiliki pengaruh yang besar terhadap kegiatan lainnya dalam objek audit secara keseluruhan. Faktor-faktor yang dipertimbangkan antara lain:
  • Materialitas keuangan;
  • Batas kritis keberhasilan;
  • Visibilitas.
       3. Dampak hasil pemeriksaan, yaitu pengaruh hasil audit terhadap perbaikan atas area yang diaudit
       4. Auditabilitas, berkaitan dengan kemampuan tim audit untuk melaksanakan audit sesuai dengan standar profesional.
Hasil
  1. Area Audit Potensial

Dari keempat area audit potensial yang ada, yaitu (1) mengamankan kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan lalu lintas barang yang masuk atau keluar Daerah Pabean, (2) Memungut Bea Masuk dan Cukai serta pungutan negara lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, (3) mengawasi kegiatan ekspor dan impor, mengawasi peredaran minuman yang mengandung alkohol atau etil alkohol, dan peredaran rokok atau barang hasil pengolahan tembakau lainnya, (4) fasilitator perdagangan, yang berwenang melakukan penundaan atau bahkan pembebasan pajak dengan syarat-syarat tertentu. Namun, area audit potensial yang dipilih adalah Memungut Bea Masuk dan Cukai serta pungutan negara lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

  1. Area Kunci

Area Kunci yang akan dinilai oleh tim audit berdasarkan hasil analisis dalam pelaksanaan audit di lapangan, yaitu area pengawasan dan pengendalian barang kena cukai berupa Minuman Mengandung Etil Alkohol (MMEA) kategori tradisional dan Etil Alkohol, MMEA non-tradional dan Hasil Tembakau (HT).

Referensi:

Nafarin, Ichsan. 2012. Bahan Ajar Pengantar Audit Kepabeanan dan Cukai. Jakarta: Pusdiklat Bea dan Cukai.

Rai, I Gusti Agung. 2008. Audit Kinerja pada Sektor Publik. Jakarta: Salemba Empat.

http://kampuskeuangan.wordpress.com/2011/05/17/perencanaan-audit-kinerja/ diakses 18 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s